Jakarta, BataraMedia.id – Seluruh jajaran pengurus Perkumpulan Silaturahim Serumpun Baruga Sulawesi (RKGB Baruga Sulawesi) menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Yarona Bonto Ogena Amir Aim beserta jajaran Pemangku Adat Kesultanan Buton atas kontribusi dan komitmen mereka dalam menyukseskan agenda Silaturahim dan Diskusi Delapan Kesultanan Buton yang berlangsung di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta.
Pertemuan yang menggabungkan nilai budaya, sejarah, dan pendekatan ilmiah tersebut menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi serta membuka ruang kolaborasi riset untuk mengkaji secara objektif dinamika sejarah, sistem pemerintahan, dan tata nilai adat Kesultanan Buton sebagai bagian dari warisan peradaban Nusantara.
Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata komitmen Yang Mulia Yarona Bonto Ogena Amir Aim bersama para Pemangku Adat Kesultanan Buton dalam menjaga martabat, marwah, serta keberlanjutan warisan budaya leluhur. Sinergi bersama BRIN diharapkan mampu menghadirkan kajian ilmiah yang objektif, memperkuat dokumentasi sejarah, sekaligus memberikan kontribusi bagi pelestarian budaya Nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebagaimana dikutip dari Humas BRIN, lembaga tersebut menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi riset dalam rangka mengungkap, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan budaya Kesultanan Buton sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Hery Yogaswara, menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap sejarah dan kebudayaan Buton telah tumbuh sejak lama melalui berbagai diskusi dengan para akademisi yang melakukan penelitian mengenai wilayah tersebut.
Ia menilai Kesultanan Buton memiliki kekayaan sejarah dan sistem pemerintahan yang menarik untuk dikaji, termasuk konsep pembagian kekuasaan yang telah dikenal dalam tata pemerintahan Kesultanan Buton jauh sebelum teori trias politica yang diperkenalkan oleh Montesquieu.
Menurut Hery, Kesultanan Buton menyimpan berbagai warisan budaya yang bernilai tinggi, mulai dari peninggalan arkeologi, manuskrip, bahasa, sastra, tradisi lisan, khazanah keagamaan, hingga sistem peradaban dan tata adat yang menjadi bagian penting dalam sejarah Nusantara.
“Semakin saya mempelajari Buton, semakin saya memahami bahwa wilayah ini memiliki nilai sejarah, tradisi intelektual, serta sistem pemerintahan yang sangat menarik untuk dikaji,” ungkapnya.
Selain itu, Buton juga memiliki kekayaan pengetahuan adat, pengobatan tradisional, manuskrip, bahasa, dan tradisi lisan yang merupakan warisan intelektual bernilai tinggi. Seluruh peninggalan tersebut dinilai penting untuk terus diteliti, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Hery mengingatkan bahwa mandat utama BRIN adalah melaksanakan penelitian, sedangkan pelestarian dan pemajuan kebudayaan merupakan kewenangan Kementerian Kebudayaan beserta unit pelaksananya di daerah. Oleh karena itu, hasil-hasil riset perlu disinergikan dengan berbagai pemangku kepentingan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum RKGB Baruga Sulawesi, Andi Tenri Umpu, menyampaikan apresiasi kepada Yang Mulia Ompu Yama beserta seluruh Pemangku Adat Kesultanan Buton atas dedikasi dan komitmennya dalam menjaga marwah perasudaraan serta melestarikan peradaban budaya Kesultanan Buton.
Menurutnya, pelaksanaan Diskusi Delapan Sultan Buton di BRIN merupakan langkah strategis dan momentum bersejarah dalam memperkuat silaturahim antara para pemangku adat kerajaan dan kesultanan Nusantara, sekaligus membangun sinergi dalam kajian sejarah, adat, dan budaya bangsa.
“Langkah yang dilakukan para Yang Mulia merupakan teladan luar biasa. Pelestarian budaya leluhur bukan hanya sebatas menjaga dan mendokumentasikan sejarah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai budaya tersebut sebagai bahan kajian ilmiah yang dapat dipahami dan diwariskan secara utuh kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan visi dan misi RKGB Baruga Sulawesi dalam menjaga keutuhan NKRI serta membangun peradaban bangsa melalui penguatan identitas budaya kerajaan dan kesultanan Nusantara.
Sementara itu, Yarona Bonto Ogena Matanaeyo Opu Amir Aim, salah satu pendiri RKGB Baruga Sulawesi, mengungkapkan bahwa Silaturrahim yang berlangsung pada Selasa, 21/7/2026 di BRIN merupakan bentuk kepedulian terhadap dinamika kepemimpinan adat di tengah masyarakat Buton saat ini.
Kami berharap melalui silaturrahim dengan BRIN dengan para Pemangku Adat dari Delapan Kesultanan, dapat memperjelas akar sejarah sistem kepemimpinan Kesultanan Buton sekaligus memperkuat marwah Lembaga Adat Kesultanan Buton (LAKB) berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 2603 K/Pdt/2014. Beliau juga menyampaikan rasa syukur karena BRIN menyambut baik inisiatif tersebut. Melalui kunjungan tersebut diharapkan akan melahirkan semangat persatuan dan persaudaraan serta marwah Kesultanan Buton dapat terus terjaga sesuai filosofi Adat Sara Pataanguna, serta nilai-nilai adat leluhur serta peradaban masa lalu Kesultanan Buton, dapat menjadi salah satu warisan berharga bagi bangsa Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Steering Committee Kepanitiaan Diskusi Delapan Sultan Buton, Laode Triad, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan memperkuat upaya pelestarian budaya sekaligus membangun kerja sama ilmiah dengan BRIN.
Dengan Penyerahan buku Pengetahuan Dasar Adat Kesultanan Buton yang di susun oleh Yasmin Gani S.T (Bonto Barangkatopa Kesultanan Buton)
Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya mengusulkan kajian sejarah Kesultanan Buton, validasi materi adat dalam buku muatan lokal, serta pengembangan buku digital adat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
Menurut Laode, masyarakat Buton saat ini menghadapi fenomena dualisme bahkan pluralisme kepemimpinan kesultanan yang berpotensi memunculkan perbedaan penafsiran terhadap sejarah dan adat istiadat.
Karena itu, ia berharap BRIN dapat memberikan kontribusi melalui kajian ilmiah yang objektif dan berbasis bukti untuk memperkuat dokumentasi sejarah, memperkaya literatur tentang Kesultanan Buton, serta mendukung pelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.
