BataraMedia.id – Proses pemilihan Presiden 2024 kini telah memasuki tahap debat antar kandidat presiden dan kandidat wakil presiden. Tentunya dalam debat tersebut para kandidat pemimpin bangsa kita ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai isi kepala para calon yang sifatnya substansial, bukan cerdas cermat dan bukan pertanyaan atau jawaban hafalan yang bisa ditemukan di mesin pencari google.
Potensi Laut
Sejumlah isu krusial menanti debat capres dan cawapres yang diselenggarakan KPU berikutnya. Misalnya, Pertahanan keamanan, Sumber daya alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat dan Desa Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, dan lain lainya. Namun yang tak kalah pentingnya dan menjadi sorotan masyarakat adalah terkait pembangunan geoekonomi Indonesia yang berbasis negara kepulauan dan maritim yang bahkan begitu urgennya issu kemaritiman tersebut harapan kita menjadi tema tersendiri dalam debat calon presiden.
Sejak negeri Indonesia berdiri, kita bersepakat bahwa kita adalah bangsa bahari yang dikelilingi lautan dengan garis pantai terpanjang, jumlah pulau terbanyak serta laut yang luas. Karena itu, pola pembangunan sudah sepatutnya yang berorietasi kepada kemaritiman sebagai pijakan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia.
Lautan berperan penting dalam berbagai hal kehidupan umat manusia. Lautan berperan dalam mengendalikan dinamuka iklim global, menyediakan makan untuk lebih dari 3 miliar orang, dan menyerap 30 persen karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer. Indonesia memiliki banyak wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang luas dan bermakna strategis sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional yang belum termanfaatkan secara optmal.
Fakta fisik Indonesia adalah salah satu negara yang sebagian besar wilayahnya berupa wilayah Perairan mengandung potensi kekayaan yang luar biasa baik berupa SDA terbarukan seperti SD perikanan dan keanekaragman hayati lainnya maupun sumberdaya yang tak terbarukan di laut, seperti energi pasang surut, gelombang, gas, minyak. Wilayah laut kita juga dapat memberikan jasa lingkungan yang besar karena keindahan alam yang dimilikinya yang dapat menggerakkan industri pariwisata, perhubungan laut, dan lain-laiunnya bahkan termasuk geopolitik regional dan internasional.
Poros Maritim Dunia
Narasi besar dan ambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya di KTT ke-9 East Asia Summit November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar. Jokowi pun telah membentuk kementerian khusus sebagai penyelenggaraan pemerintahan di bidang kemaritiman dan investasi yakni Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Namun selama 10 tahun terakhir pemerintahannya narasi itu menyisahkan pekerjaan rumah, Indonesia belum menikmati terobosan keuntungan ekonomi pada sektor maritim secara optimal.
Harapan kita pemimpin negara ke depan memiliki terobosan program untuk mendukung keberlanjutan, mengakomodasi dan memprioritaskan konsep negara maritim. Program serta visi bangsa maritim bukan sekadar lips service, tetapi arahan jangka panjang pemanfaatan potensi dan wilayah pesisir laut secara berkelanjutan. Tentunya pembangunan berbasis dan berorietasi kepada kemaritiman sebagai pijakan pembangunan tidak berarti bahwa kegiatan ekonomi di darat seperti pertanian, perkebunan, manufaktur tidak produktif dan harus ditinggalkan.
Poros maritim dunia, suatu visi Indonesia untuk menjadi sebuah negara maritim yang berdaulat, maju, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia yang digaungkan pada pemerintahan sebelumnya harus dioptimalkan. Misalnya membangun budaya maritim Indonesia, menjaga laut dan sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama. Pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, memperkuat kerja sama di bidang kelautan, menghilangkan pencurian ikan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut, sertra membangun kekuatan pertahanan maritim untuk menjaga kedaulatan dan keamanan kekayaan maritim.
Indonesia akan menyambut usia emas pada tahun 2045. Pada saat itu, Indonesia genap berusia 100 tahun. Di masa itu, ditargetkan Indonesia sudah menjadi negara dengan pandapatan per kapita yang setara dengan negara maju, sehingga dapat keluar dari Middle Income Trap (MIT). Perwujudan dunia maritim yang didambakan ini, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dapat mencapai posisi unggul sebagai negara maritim yang tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan global dan kesejahteraan masyarakatnya.

